Senin, 04 Januari 2010

BICARA BAHASA INGGRIS? SIAPA TAKUT!

Keterampilan berbicara bahasa Inggris di zaman sekarang ini, merupakan salah satu modal yang sangat penting untuk memperoleh kesuksesan. Dengan memiliki keterampilan tersebut, seseorang akan dapat berkomunikasi hampir dengan seluruh orang di dunia. Dan jika kita telah mampu melakukan komunikasi itu, tentunya kita akan mendapatkan lebih banyak pengetahuan, relasi dan peluang. Disamping itu, dengan mempunyai kemampuan speaking yang bagus, siapa pun akan mendapatkan pekerjaan yang bagus pula. Biasanya, lapangan kerja yang sangat membutuhkan keterampilan ini adalah dunia bisnis, teknologi, sains, penerbangan, pariwisata dan diplomatik. Semua bidang tersebut termasuk ke dalam bidang-bidang paling bergengsi dengan jumlah penghasilan yang tinggi.
Namun, di saat kemampuan speaking sangat diperlukan, masih ada segelintir orang yang merasa enggan, canggung, bahkan takut untuk menggunakannya. Ada sebuah istilah yang dinamakan Overusers, yaitu pengguna bahasa yang merasa mereka harus mengetahui semua peraturan dan tidak sepenuhnya mempercayai kemampuan mereka secara tatabahasa (grammaticality) di dalam bahasa Inggris.
Satu kasus “S”, disebutkan oleh Stafford dan covitt (1978) dalam Suryadimulya, A.S. (2008). “Analisis Teori Monitor dalam Akuisi Bahasa Kedua”, dikatakan bahwa “Aku merasa bersalah ketika aku merangkai kata-kata dan aku tidak mengetahui sama sekali mengenai tatabahasa.” Pada pandangan Stevick, Overusers mungkin menderita “Lathophobic Aphasia”, sebuah “ketidakmauan untuk berbicara” karena takut jika berbuat salah. (Stevick, 1976:78).
Alasan ketakutan berbicara dengan bahasa Inggris yang biasa diutarakan adalah karena merasa takut salah dalam pengucapan kata atau pronounciation. Hal ini memang benar-benar harus diperhatikan. Sebab apabila cara pengucapan suatu kata itu salah, maka ucapan kita pun tidak akan dimengerti oleh orang lain. Kendala lain yang membuat seseorang enggan untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris, adalah karena takut mengalami kesalahan dalam penggunaan tata bahasa atau grammar. Biasanya, orang cenderung sulit untuk memahami dan menerapkan tata bahasa dalam percakapannya, karena terlalu banyak dan rumitnya aturan tersebut. Selanjutnya, kendala utama seseorang untuk berbicara adalah kurangya perbendaharaan kata yang mereka miliki, sehingga mereka sulit dan tidak mempunyai kepercayaan diri untuk mengungkapkan ide-idenya, lalu lebih memilih untuk diam. Apalagi jika mereka harus melakukan public speaking, bukan saja sulit untuk berbicara, bahkan mungkin akan mendapatkan tekanan mental yang lebih besar lagi. Karena orang yang melakukan public speaking harus mampu berbicara di depan orang banyak dengan bahasa yang baik dan benar.
Sebenarnya, jika kita ingin menguasai suatu bahasa, maka kita tidak boleh takut untuk mencoba mempraktikannya. Hal pertama yang harus kita miliki untuk mempelajari cara berbicara yang baik adalah semangat serta motivasi yang tinngi. Setelah memiliki modal tersebut, kita harus memulainya dengan menghafalkan kosakata yang lebih banyak lagi dari yang telah kita ketahui. Sebab intinya, suatu bahasa itu tersusun atas berbagai kalimat, dan kalimat tersebut tersusun dari berbagai kata. Mungkin dapat dikatakan bahwa, tidak akan ada manfaatnya kita mengetahui aturan dan trik berbahasa kalau kita miskin kosakata. Untuk itu, kita harus lebih bersahabat dengan kamus, dan lebih peka terhadap kosakata baru yang kita temukan. Baiknya, setelah kita menemukan kosakata baru baik dari tempat umum, dari internet,dari lagu, film, televisi atau bahkan dari teman kita, segeralah catat dan cari dalam kamus. Dan apabila telah diketahui artinya, pelajari juga bagaimana cara penggunaannya dalam kalimat serta bagaimana cara pengucapannya yang benar. Atau mungkin akan lebih mudah apabila kita mempelajari pronounciation dengan cara menonton film bahasa Inggris, kemudian memperhatikan bagaimana cara penutur asli (native speaker) berucap. Langkah selanjutnya, cobalah untuk mengucapkan kata-kata tersebut dalam percakapan ringan bersama teman. Dengan cara seperti itu, seseorang akan lebih terbiasa dan terus mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dalam cara menyusun kalimat, cara pengucapannya, dan keluwesan berbicaranya.

Public Speaking
Apabila kita telah mampu berbicara bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, sebaiknya kita mengembangkan kemampuan kita itu dengan mempelajari public speaking. Yang dinamakan public speaking sendiri adalah keterampilan berbicara di depan umum dengan menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar untuk beberapa kegunaan. Salah satu contoh public speaking adalah berpidato. Kemampuan pidato ini sangat dibutuhkan baik di lingkungan masyarakat, lingkungan pendidikan, ataupun lingkungan kerja. Dan sudah terbukti banyak orang yang sukses di bidangnya masing-masing dengan kemampuan public speaking. Contoh nyatanya saja, sekarang ini banyak trainer motivasi yang sukses meraih banyak keuntungan dengan mengandalkan kemampuan public speaking mereka. Dan semakin tinggi tingkat profesionalitas mereka, semakin tinggi pula penghasilan yang mereka dapatkan.
Memang benar, pada kenyataannya menjadi seseorang yang ahli public speaking itu tidaklah mudah. Saat pertama kali kita dituntut untuk menyampaikan pidato di depan orang banyak, hampir setiap orang mengalami nervous sampai gemetaran, berkeringat dingin, dan sering pula terjadi kesalahan karenanya. Nervous dan beberapa kesalahan merupakan dua hal yang tidak bisa dihindarkan saat melakukan public speaking. Tidak peduli sudah berapa kali kita melakukannya, perasaan itu selalu tetap ada karena ini terjadi secara alami. Namun jangan terlalu pusing memikirkan hal itu, karena ada beberapa cara yang cukup ampuh untuk mengatasi kendala-kendala speaking tersebut. Menurut Edward (2009).”Tips to Overcome Your Fear of Public Speaking”, dinyatakan bahwa untuk mengatasi rasa takut dalam public speaking diperlukan 5P yang terdiri dari : “preparation , passion, positive, practice, dan persistent.”
Solusi 5P memang sangat cocok untuk mengatasi rasa takut atau nervous di dalam public speaking. Hal pertama yang harus dilakukan adalah preparation atau persiapan yang matang. Persiapan itu meliputi pemahaman karakter para pendengar atau audience, kemudian menyiapkan isi materi yang sesuai dan menarik perhatian mereka. Selanjutnya adalah passion (kegemaran), kita harus memilih topik yang paling kita sukai dan juga disukai oleh audience. Apabila kita menyukai topik yang kita bicarakan, maka kita akan lebih optimal menyampaikan materi serta lebih mudah mempengaruhi audience untuk lebih tertarik pada isi pembicaraan kita.
Berdasarkan pendapat Aristotle (291 SM) yang menyatakan bahwa :

“All public presentations are some balance of three rhetorical proofs : ethos (ethical), pathos (emotional), and logos (logical). The ethos is the speaker and his or her character as revealed through the communication. The pathos is the audience and the emotions felt by them during the rhetoric. The logos is the actual words used by the speaker.”

“Semua presentasi umum adalah beberapa keseimbangan dari tiga bukti retorik : ethos (adab), pathos (emosional), dan logos (logis). Ethos adalah pembicara dan sifat pembicara yang tampak selama komunikasi. Pathos adalah pendengar dan emosi yang dirasakan oleh mereka selana retorika. Logos adalah kata-kata sebenarnya yang digunakan oleh pembicara.”

Solusi selanjutnya adalah saat kita memulai untuk berbicara di depan umum, selalulah berfikir positif dan meyakinkan diri bahwa kita mampu melakukannya dengan baik. Dengan menunjukkan kepercayaan diri di hadapan audience, tentunya mereka pun akan memberikan respon yang baik terhadap penampilan kita.
Hal terpenting agar dapat menguasai public speaking yang baik adalah dengan practice atau berlatih. Semakin sering kita berlatih, baik di depan cermin, ataupun di depan keluarga dan sahabat, semakin meningkat pula rasa percaya diri kita. Karena setelah kita berlatih, maka kita akan merasa lebih terbiasa dan nyaman untuk berbicara di hadapan orang lain.
Langkah terakhir setelah kita melakukan tips-tips sebelumnya, rasa nervous itu akan hilang apabila kita persistence atau terus melakukannya berulang-ulang. George Bernard Shaw yang merupakan seorang novelis, kritikus, esaias, politikus, dan orator Irlandia peraih Nobel Kesusateraan juga menggunakan cara ini untuk mengatasi ketakutannya dalam public speaking. Selain itu, dengan menerapkan metode persistence, kita akan mendapatkan lebih banyak pengalaman bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan public speaking kita agar lebih menarik dari segi isi, penampilan, dan kepercayaan diri untuk tampil. Setelah kita dapat menguasai keterampilan berbicara terutama public speaking, tentu kita akan dapat merasakan betapa mengasyikannya bertutur menggunakan bahasa Inggris.
Berbicara menggunakan bahasa Inggris sebenarnya tidaklah sulit dan menakutkan apabila kita mempunyai ketertarikan, kemauan, dan usaha yang maksimal untuk mempelajarinya. Terlebih lagi apabila kita telah mampu melakukan public speaking, seni berbicara bahasa Inggris akan terasa lebih menyenangkan. Kemudian kemampuan ini pun akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat juga dalam mendukung karir kita. Jangan ragu dan takut berbahasa Inggris, karena semakin sering kita menggunakannya semua akan terasa mudah, menyenangkan, dan terasa manfaatnya. Selamat berbicara menggunakan bahasa Inggris!













REFERENSI
Suryadimulya, A.S. 2008. “Analisis Teori Monitor Dalam Akuisi Bahasa Kedua”. Makalah. Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Padjajaran. [25 Oktober 2009].

Edward. 2009. “Tips to Overcome Your Fear of Public Speaking.” [Online]. Tersedia: http://www.articlebase.com. [25 Oktober 2009].

Fournier, S.M. 2009. “Aristotle’s Rhetoric”. [Online]. Tersedia: http://stevefournier01tripod.com. [26 Oktober 2009].


oleh Dini Mustaqima (0902353)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar